Keraton Jamu Logo
KERATON JAMU
Balai Studi Herbal & Kebugaran Pria
KERATON JAMU INDONESIA • PUSAT STUDI HERBAL

Tanya Jawab Tradisi & Kebugaran (FAQ)

Penjelasan Terbuka Mengenai Keamanan, Aturan Minum, dan Khasiat Jamu

PUSAT JAWABAN & INFORMASI

Pertanyaan yang Sering Diajukan Masyarakat

Berikut adalah penjelasan lengkap yang disusun oleh Dewan Pakar Keraton Jamu Indonesia untuk membantu Anda memahami kaidah penggunaan ramuan herbal secara bijak:

Tidak. Jamu tradisional asli berbahan Pasak Bumi, Purwoceng, dan Jahe Merah bekerja secara adaptogenik dan berakar pada perbaikan sirkulasi darah serta cadangan energi seluler (ATP). Jamu yang mengklaim bekerja instan dalam hitungan menit umumnya telah dicemari Bahan Kimia Obat (BKO) sintetis berbahaya yang dilarang oleh BPOM RI.

Kandungan Temulawak (*Curcuma xanthorrhiza*) dalam racikan keraton justru memiliki sifat gastroprotektor yang membantu melindungi mukosa lambung. Namun, untuk kenyamanan maksimal, minumlah seduhan jamu 30–45 menit setelah menyantap makanan ringan.

Mayoritas pria merasakan rasa hangat di tubuh dan berkurangnya rasa pegal linu setelah 3 hingga 5 hari konsumsi teratur. Daya tahan tubuh dan pemulihan stamina yang stabil umumnya optimal tercapai setelah siklus 14 sampai 30 hari.

Beri jeda minimal 2 jam antara konsumsi jamu tradisional dengan obat medis konvensional untuk mencegah interaksi penyerapan pada saluran pencernaan. Jika Anda memiliki riwayat penyakit jantung berat, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter Anda.

Setiap jamu berizin resmi selalu menyantumkan kode 'BPOM TR' diikuti 9 digit angka unik pada kemasannya. Nomor tersebut dapat diverifikasi langsung secara publik melalui situs resmi Cek BPOM RI (cekbpom.pom.go.id).